Showing posts with label TIPS ROMANTIS. Show all posts
Showing posts with label TIPS ROMANTIS. Show all posts

Thursday, July 20, 2017

Istri Adalah Legislatifnya Rumah Tangga

 
Istri adalah porosnya rumah tangga. Peranan istri tak tergantikan dari jaman awal hingga sekarang, sebagai misal melahiirkan, menyusui dan lain sebagainya.
Namun peran istri terkadang disudutkan sebatas bersolek, beranak dan bersih-bersih.

 Jika ibarat negara sebenarnya peran istri menyerupai dan hampir sama persis dengan para legislatif loh

Istri berperan sebagai  controlling : pengawasan terhadap PERGA (Peraturan Keluarga) dan kebijakan suami  dalam melaksanakan program pembangunan keluarga.

Istri berperan sebagai   budgeting : mengesahkan rancangan anggaran belanja keluarga melalui sidang paripurna (keluarga dirumah) setelah rapat koordinasi dengan lembaga eksekutif (suami) di awal kepengurusan

Istri berperan sebagai  legal drafting : perancanaan konstitusi Keluarga dalam menciptakan keamanan kenyamanan dan ketentraman bagi seluruh anggota keluarga.

Istri berperan sebagai legislasi : Menentukan agenda, membahas dan menyetujui rancangan undang - undang keluarga serta mengusulkan dan memformulasikannya dengan suami.

Selain diatas, ternyata istri juga harus bersifat ssolutif : Kemampuan untuk mencari jalan keluar yang baik. Win Win solution

Nah keren kan sebenarnya menjadi emak-emak itu, heheh
Semoga bahagia dengan Chocordan Mami Muda ya

Anak Semakin Nakal, Berapakah Porsi peran Orang Tua Terhadap Perkembangan Anak

 
 Zaman semakin maju dengan pesat, teknologi semakin menunjang untuk langkah lebih baik. Mungkin demikian jika dilogika. Namun ketika kita melihat fenomena akhir-akhir ini yang santer beredar video kekerasan, bullying, video perbuatan tidak senonoh, video ujaran kebencian, dan kebanyakan semua itu dilakukan oleh generasi emas. Generasi usia produktif yang seharusnya menjadi unas bangsa untuk semakin membuat Indonesia menjadi jauh lebih baik.

Pasti para orang tua miris melihat hal demikian. Muncul perasaan was-was, khawatir dan takut jika anak mereka akan menjadi seerti itu juga.

Apalagi beberapa khasus dijumpai justru berada disekolahan yang notabene menjadi tempat untuk belajar mereka, temat yang telah orang tua percaya untuk menitipkan anak mereka setiap hari dalam kurun waktu sepertiga hari bahkan lebih.

Banyak dari orang tua yang merasa bahwa sekolah merupakan tempat penitipan dan bertanggung jawab sepenuhnya untuk masa depan anak. Sehingga secara otomatis akan muncul fikiran bahwa yang penting sudah bayar, anak berangkat sekolah dikasih uang, pulang sekolah ya sudah dibiarkan tanpa perlu ditanya aktifitas disekolah bagaimana.

Sekolah memegang peran penting terhadap anak mulai pukul 07.00 hingga kisaran pukul 13.00, enam jam dalam enam hari.

Sepulang sekolah biasanya anak akan istirahat atau tidur walau ada sebagian yang memilih bermain. Dari pulang sekolah sampai kira-kira pukul 16.00. Apakah orang tua  mengambil peran pada waktu ini?

Saya ra tidak, karena anak-anak yang memilih istirahat biasanya ipakai untuk tidur dan mustahil orang tua mengambil peran untuk lebih tahu tentang anak dengan mengamati ketika mereka tidur.

Orang tua hanya kebagian waktu memasuki magrib hingga pukul 21.00, kira-kira tigat hingga empat jam dalam sehari aktif. Itupun jika para orang tua benar-benar menjadikanya waktu yang berkualitas untuk setidaknya bertanya "aktifitas apa sajakah yang telah kamu lakukan nak?"

Waktu yang hanya sekitar emat jam inilah yang seharusnya dimanfaatkan orang tua untuk "mengaudit" segala aktifitas anak-anak kita. Dengan begitu kita akan tahu apa yang telah dialami oleh mereka seharian.

Kita dapat memberikan masukan jika ada unsur negatif, kita dapat memberikan pujian mengenai kegiatan yang positif.

Lantas apakah cukup jika porsi kurang lebih empat jam tersebut dibanding dengan kegiatan mereka diluar yang bisa memakan tiga kali lipat lebih banyak?

Tentu saja cukup, jika hal tersebut dilakukan secara rutin, maka kita sebagai orang tua akan mampu mengganti waktu lain yang telah dipakai anak kita diluar.
Bukan mengenai kuantitas, namun mengenai kualitas menjadi orang tua yang harus lebih hebat dan kuat untuk kebaikan generasi kita kedepan.

Semoga bahagia dengan Chocordan Mami Muda ya

Monday, June 26, 2017

Bahagiakah Anda Menjadi Ibu Rumah Tangga

 
Menjadi sosok ibu adalah dambaan semua wanita, rasanya belum lengkap jika seorang wanita belum menjadi ibu. Benarkah demikian? Ibu identik dengan rumah. Itu yang ada dalam benak sebagian banyak masyarakat. Ibu identik dengan rumah tangga, rutinitas mengasuh anak, menyelesaikan pekerjaan rumah mulai dari melipat selimut hingga menyalakan lampu rumah setelah seharian mencuci, mengepel dan bejibun banyak kegiatan lainya.

Sampai disini masihkah anda sepakat dengan persepsi ibu yang tergambar diatas?

Sebagai wanita memang kodratnya menjadi ibu bahkan ibu rumah tangga yang mengabdikan diri sepenuhnya untuk kegiatan seputar rumah. Benarkah demikian?
Jika benar, sedemikian menjenuhkanya kah menjadi ibu rumah tangga itu?

Dalam konteks kehidupan modern, peran wanita dalam rumah tangga masih sangat vital dan belum tergantikan. Dimulai dari bangun pagi untuk mempersiapkan sarapan hingga malam hari membersihkan perabotan sehabis makan malam. Peran wanita dalam kehidupan rumah tangga semakin sentral karena wanita juga harus dapat memanajemen keuangan keluarga sehingga dapur tetap ngebul, mengontrol pendidikan dan pergaulan anak sehingga mereka tidak keblinger dan lain sebagainya.

Hemm luar bisa banget ya, lantas dengan seabrek kegiatan tersebut kenapa makin hari makin banyak wanita usia dihalalin yang takut menjadi ibu rumah tangga dengan alasan takut bosan?

Bosan dan kesepian tak ada teman dirumah adalah alasan mayoritas para wanita takut menjadi ibu rumah tangga. Jika kita telurusi penyebab kebosanan dan kesepian adalah karena aktifitas para ibu terkesan monoton. Seabrek kegiatan yang dilakukan tidak akan mampu mengusir rasa bosan tersebut. Justru semakin banyak kegiatan akan membuat rasa bosan bertambah menjadi capek dan keluh kesah hingga akhirnya keluar the power emak saiyant alias marah-marah pada level dewa.

Nah untuk mengatasi hal tersebut maka diperlukan tips dan trik yang dapat merubah kebiasaan "monoton" menjadi kegiatan yang berkualitas.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah merubah mindset bahwa ibu rumah tangga itu menjenuhkan.


Semoga bahagia dengan Chocordan Mami Muda ya